Selasa, 25 Juni 2013

MAU MERAIH SURGA?

Mau Meraih Surga? PDF Print E-mail
{jb_quote}Percuma sholat jika jarang berbuat baik. YANG penting berbuat baik sama orang, meski tidak sholat,” demikian kalimat yang sering kita dengar di masyarakat.{/jb_quote}
Mau Meraih Surga?Fiqhislam.com - Kekeliruan seperti ini adalah kesalahan konsep berfikir yang sangat berbahaya dan menyesatkan. Surga bukan tempat gratis. Bahkan untuk bisa survive hidup di kota Metropoliran seperti Jakarta saja, mandi dan buang air bersa haruslah membayar, apalagi nilai sebuah surga Allah Subhanahu wata’ala.

Benarkah dengan cukup berbuat baik dan beramal orang bisa meraih surga? Tunggu dulu. Kalau cara pandang seperti itu digunakan, betapa banyak pencuri dan perampok baik hati memenuhi surga Allah. Lantas, di mana keadilan Allah kepada orang-orang miskin tapi taat beribadah? Di mana mereka (mungkin) tidak banyak melakukan infaq, shadaqoh?

Kemuliaan surga tidak akan diberikan oleh Allah secara gratis, melainkan kepada hamba-hamba-Nya beriman, bebramal shalih, berjihad di Jalan Allah dan bersabar.

Seperti yang telah dicontohkan oleh para sahabat dan ulama-ulama terdahulu. Abu Bakar adalah satu-satunya orang yang menemani Nabi di gua hingga hanya berdua bersama nabi, mengorbankan hartanya, dan dipanggil dari delapan pintu surga, dan ketika menjadi khalifah, beliau justru melawan orang-orang murtad.

Umar bin Khattab menjadi pemimpin yang paling merakyat. Rela bersusah payah demi hak-hak rakyatnya. Dan tiadalah setan bertemu Umar bin Khattab melainkan lari terbirit-birit. Ide-idenya juga menjadikan wahyu diturunkan lebih dari sekali.

Utsman bin Affan telah mempersiapkan jaisy al-‘usrah, mewaqafkan sumur Rumat untuk umat Islam yang dilanda kekeringan, dan menghatamkan Al-Qur’an dalam setiap raka’at sejarahnya.

Ali telah merelakan dirinya mengganti posisi tidur Rasulullah di ranjang beliau tatkala malam hijrah. Ia juga ksatria perang tanding ketika Badar, pembuka benteng Yahudi di Khaibar, dan penakluk para penentang Islam.

Khalid bin Walid telah mengikuti seratus laga peperangan, membunuh lima ribu prajurit musuh dengan tangannya, dan mematahkan sembilan pedang.

Abdurrahman bin Auf telah menyedekahkan 1000 ekor unta sekaligus muatannya untuk kaum fuqara. Dan, tidak pernah menghadapi meja makan, melainkan menangis karena ingat penderitaan Rasulullah dan para sahabat-sahabatnya.

Sementara itu dari sisi keilmuan, Jabin bin Abdullah harus menempuh sebulan perjalanan ke Mesir hanya untuk peroleh satu hadits, dan Ibnu Musayyab harus menempuh tiga hari perjalanan untuk peroleh jawaban satu masalah.

Ya, mereka itulah calon penghuni surga yang telah Allah janjikan kepada hamba-Nya yang mau bersabar dan berjihad. Bahkan Allah secara tegas mengatakan kepada umat Islam bahwa surga hanya akan diperoleh oleh Muslim yang mau berjihad dan bersabar.


{jb_bluebox}Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. 3 : 142).{/jb_bluebox}
Ibn Katsir menjelaskan dalam tafsirnya; “Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian diuji dan nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di jalan-Nya dan orang yang sabar dalam melawan musuh”.

{jb_quote}Syeikhul Ibnu Taimiyyah pernah ditanya, tentang amalan ahlul jannah dan amal perbuatan yang menyebabkan seseorang menjadi penghuni neraka. Beliau menjawab, amalan ahlul jannah (penghuni surga) adalah iman, takwa, dan amal shalih yang lain. Adapun perbuatan penghuni neraka ketika di dunia adalah kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Amalan ahlul jannah adalah beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, percaya adanya hari akhir, serta beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk. Amalan lainnya adalah mengucapkan syahadatain; Laa ilaha illallah dan Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, puasa di bulan Ramadhan, dan haji ke Baitullah. Demikian pula, seorang ahlul jannah ketika di dunia adalah seorang muhsin (berbuat ihsan). Maksudnya, beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalaupun engkau tidak bisa melihat-Nya maka sungguh Dia pasti melihatmu.{/jb_quote}
Al-Quran memberi sedikit gambaran siapa-siapa yang akan bertempat di surga.

وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
وَمَن يَعْصِ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَاراً خَالِداً فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ


{jb_bluebox}Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dalam keadaan mereka kekal di dalamnya. Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar. Dan siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya lagi melampaui batasan-batasan-Nya niscaya Allah akan masukkan dia ke dalam neraka dalam keadaan kekal di dalamnya dan untuknya di dalam neraka itu azab yang hina.” (QS: an-Nisa: 13—14).{/jb_bluebox}
Begitulah penjelasan Allah Subhanahu Wata’ala. Tentu, berbuat baik pada orang dan tetangga atau sering beramal saja tidaklah cukup memenuhi syarat. Sarat lain adalah taqwa, iman dan tunduk aturan-aturan Allah Subhanahu Wata’ala. Perampok, orang atheis bisa saja beramal karena uangnya, namun mereka bukan karena Allah. Sehingga amal-amalnya tertolak dan sia-sia.

Muhsinin
Kita masih berpeluang mendapatkan surga dengan tetap menjadikan ajaran Islam sebagai pola pikir kita sehari-hari. Allah akan menyambut orang yang punya niat yang ikhlas untuk mendapat keridhoan-Nya. Bahkan Allah akan selalu menyertai orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsinin).


{jb_bluebox}Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik,” (QS. 29 : 69).{/jb_bluebox}
Jadi, jangan khawatir Allah tetap memberikan perhatian besar kepada kita untuk sama-sama bisa mendapat keridhoan-Nya hingga kelak diberi ganjaran terbaik di dalam surga-Nya. Dengan catatan, kita membiasakan diri untuk senantiasa berbuat baik.

{jb_greenbox}Dari Abu Hurairah r.a, “Telah bersabda Rasulullah saw, “Ada seorang  laki-laki sedang naza’ (dalam kondisi sakaratul maut), ia tidak pernah mengerjakan kebaikan, (kecuali) sekadar menyingkirkan ranting berduri dari jalan; ada kalanya ranting itu berada di atas pohon lalu dipotong, kemudian dibuangnya (jauh), dan ada kalanya ia sengaja dipasang (di tengah jalan) lalu disingkirkannya. Kemudian karenanya Allah berterima kasih kepadanya, lalu dimasukkanlah ia oleh-Nya ke surga.” (HR. Imam Abu Daud, Imam Ibnu Hibban dengan derjajat shahih).{/jb_greenbox}
Berbuat baik dengan menyingkirkan ranting di jalan saja, Allah berikan balasan surga. Bagaimana jika kita berusaha taat aturan Allah Subhanahu Wata’ala (mengikuti standar Al-Quran dan As Sunnah) setiap saat, setiap hari, dan sepanjang waktu. Juga meningkatkan kualitas iman kita terus-menerus menjadi lebih baik, sampai bertambah ketaatan kita padaNya?

Berbuat baik berarti berbuat ihsan. Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa ihsan adalah gradasi tertinggi dari keimanan setiap Muslim. Setiap Muslim yang mampu berbuat ihsan insya Allah akan dekat dengan keridhoan-Nya. Sebab Muslim yang ihsan akan senantiasa menahan diri dari berbuat aniaya (dosa), dan bersegera dalam kebaikan. Hatinya dipenuhi kesadaran bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi gerak-geriknya.

Bilal bin Rabbah senantiasa menjaga wudhunya agar terhindar dari berbuat maksiat. Karena kebiasaan menjaga kesucian diri dengan berwudhu, terompah Bilal dikatakan Nabi telah berada di dalam surga. Nabi Daud a.s melakukan sehari puasa sehari buka agar terhindar dari berbuat aniaya kepada diri dan orang lain. Apalagi mengingat posisinya sebagai seorang penguasa, yang jika tidak hati-hati dan waspada sangat mudah tergelincir pada keserakahan dan kesesatan.

Sekiranya, umat Islam di tanah air seluruhnya mau beriman dan berbuat baik (ihsan) tentu tentramlah kehidupan bangsa dan negara ini. Karena Allah telah berjanji akan menurunkan rahmat dan berkahNya hanya kepada orang-orang yang beriman dan berbuat baik.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ


{jb_bluebox}Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”(QS: Al-A’raf[ 7]: 96).{/jb_bluebox}
Mengapa kehidupan kita jauh dari berkah dan rahmat Allah? Mengapa pula kehidupan berbangsa kita terus-terusan amburadul? Jangan-jangan, kita semua telah silap dengan peringatan Allah ini. Wallahu A’lam. [yy/hidayatullah]

Imam Nawawi

RAIH SURGA DENGAN KATA-KATA

Raih Surga dengan Kata-Kata PDF Print E-mail
Raih Surga dengan Kata-KataFiqhislam.com - Kata-kata adalah nutrisi dan penawar segala penyakit. Lidah adalah roda kemudi. Karena itulah, mengapa orang yang mengalami kegundahan, kesedihan, stress atau depresi, akan menjadi lebih baik ketika mendapatkan siraman kata-kata sejuk yang menghibur.
 
Hal ini menunjukkan betapa hebatnya fungsi ucapan yang meluncur dari lidah seseorang. Tak semua ucapan ditujukan untuk menyampaikan informasi dan membentuk pengertian.
 
Saat kita mengucapkan, "Selamat pagi! Apa kabar?" kita tidak bermaksud mencari keterangan. Tapi hal itu upaya agar orang lain merasa apa yang disebut oleh Teori Analisis Transaksional sebagai, 'Saya Oke-Kamu Oke'. Yaitu komunikasi yang ditujukan untuk menimbulkan kesenangan. Sebaliknya, perkataan yang buruk atau komunikasi yang gagal akan menimbulkan hubungan sosial yang tidak harmonis.
 
Maka dari itu, Allah swt. berfirman, "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaithan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka." (QS Al-Isra': 53)
 
Renungkanlah perumpamaan yang Allah SWT gambarkan dalam Al-Quran,
 
"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, yaitu akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat." (QS Ibrahim: 24-25)
 
Berinfaklah dengan perasaan Anda...
 
Sungguh, kita kaya dan berkuasa atas perasaan yang kita miliki. Maka sedekahkanlah kekayaan bathin itu untuk keluarga dan orang-orang terdekat kita. Jangan halangi mereka dari merasakan perasaan-perasaan itu. Berkatalah pada istri, suami atau kerabat dan orang terdekat dengan mulut yang terbuka dengan sempurna, lalu selamilah isi hati kita. Usahakanlah selalu agar mereka tidak merasa bahwa kita pelit hati, walau tangan sering bersedekah. Jangan buat mereka gersang dan haus akan kesejukan hati kita. Janganlah bakhil mencurahkan kemurahan hati kita, padahal mereka mengetahui bahwa kita memiliki kemurahan itu. Apakah air sejuk hati ini begitu dalam, sehingga tak dapat dirasakan seperti halnya air di sumur yang dalam?
 
Atsar berikut bisa kita renungkan. Isteri terbahagia di antara para wanita, yaitu 'Aisyah meriwayatkan dari Rasulullah saw.
 
"Surga adalah tempat orang yang bermurah hati." (HR Ibnu 'Ady).
 
Maka bangunlah surga dengan kedermawanan kata-kata yang baik dan lembut, pujian yang semerbak serta luapan perasaan cinta kasih. Karena kata-kata yang baik adalah mata air kehidupan bagi hati dan jiwa, lebih-lebih hati dan jiwa wanita. Jangan bakhil terhadap sepotong kata yang baik. Kenapa harus berat mengucapkan kata-kata menyejukkan? Apakah sepotong kata yang dikeluarkan membuat harta berkurang? Apakah sepenggal kalimat baik yang kita ucapkan membuat kita terbebani? Alangkah indahnya jika kita menjunjung syiar Islam, yaitu membahagiakan orang lain. Dan orang lain yang paling utama kita bahagiakan, adalah keluarga dan orang terdekat.
 
Sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah setelah amal fardhu, yaitu memberikan kegembiraan pada orang muslim." (HR Ath-Thabrany)
 
Kata-kata lembut antara suami-istri mengandung pesan hati serta jiwa yang begitu dalam. Dan setelahnya, Insya Allah akan lahir kebahagiaan agung yang mencairkan segala kebekuan. Sinarilah rumah tangga dengan kata-kata baik nan lembut, maka Anda sudah membangun satu pondasi kokoh bagi pernikahan. Dengan ucapan yang menyejukkan hati, rumah terisi dengan cahaya saling memaafkan, cahaya toleransi dan cahaya cinta. Akhirnya, hati dan jiwa pun saling menyatu.
 
Oleh Muhammad Masnur Hamzah

ENAM PESAN DARI PARA AHLI SURGA

Enam Pesan dari Para Ahli Surga PDF Print E-mail
Enam Pesan dari Para Ahli SurgaFiqhislam.com - Betapa indahnya ketika berbicara tentang surga. Dan tahukan engkau apa itu surga?. Surga adalah rumah tinggal yang abadi yang menjadi tujuan setiap hamba Allah yang shalih. Surga adalah pusat aspirasi semua hamba Allah. Surga adalah di atas apa yang kita lihat, di atas apa yang kita dengar dan di atas apa yang muncul dalam pikiran manusia, Allah SWT berfirman dalam surah Al-Kahfi ayat 107-108 :
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, (*) Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya” …. (QS Al-Kahfi: 107-108).
Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim dari hadits riwayat Abu Hurairah, Allah berfirman,
“Aku telah mempersiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang shalih surga yang (kenikmatannya) belum pernah ada mata yang telah melihat, dan tidak pernah ada telinga yang telah mendengar maupun telah terdetik di hati manusia”
Dengan kasih Allah dan rahmat-Nya kepada kita,  Dia telah membentangkan gambaran surga yang nikmat itu, dengan menekankan keabadian dan kesempurnaan, tanpa kekurangan sedikitpun, tidak panas atau dingin, tidak lelah dan tidak sibuk dengan hiruk pikuk, tak ada kerugian, tidak ada yang dicurangi. Sekali teguk kenikmatan di surga melupakan semua penderitaan dalam hidup ini.
Timbul pertanyaan, mengapa semua ini diceritakan wahai hamba-hamba Allah? Hal ini semata untuk mengajak orang-orang beriman ke surga dengan penuh semangat. Agar mereka bergegas menuju berbagai kebahagiaan, taman dan segala istananya.
Sebab surga adalah tempat tinggal yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya sendiri, dipersiapkan sebagai rumah untuk orang-orang yang dicintai-Nya agar mengisinya dengan rahmat, kemuliaan dan ridha-Nya.
Dia menggambarkan kenikmatannya sebagai kemenangan besar, pemiliknya sebagai raja diraja, segala kebaikan dan kemurniannya dijaga dari setiap cacat dan kekurangan.
Celakalah jiwa-jiwa yang tidak menginginkan hal itu, tidak ingin melihatnya, dan tidak berusaha untuk masuk ke dalamnya !
Mari kita renungkan hadits-hadits Nabi SAW yang terkait langsung dengan mereka yang dijanjikan surga, seraya berdoa kepada Allah agar kita dimasukkan surga bersama keluarga dan kerabat kita semua. Tak ada surga kecuali dengan berusaha menggapainya.
 




Pesan Pertama

Kisah Abu Bakr dan amalan-amalan baiknya

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata: “
Rasulullah SAW berkata:  Siapa di antara kamu yang berpuasa hari ini?
Abu Bakar menjawab: “Aku”.
Dia bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang telah mengikuti pemakaman hari ini?
Abu Bakar berkata: “Aku”.
Dia berkata lagi, “Siapa di antara kalian yang memberi makan orang miskin hari ini?
Abu Bakar berkata, “Aku”.
Dia bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?
Abu Bakar menjawab, “Aku”.
Rasulullah SAW kemudian bersabda,
Jika terkumpul seluruh amalan seperti di pria ini, niscaya ia akan masuk surga
Diriwayatkan dari Abd al-Rahman bin Abi Bakr,  dia berkata, “Rasulullah SAW shalat subuh, kemudian bertemu dengan para sahabatnya”.
Dia berkata: “Apakah ada di antara kalian yang hari ini berpuasa?
Umar bin al-Khattab menjawab, “Ya Rasulullah, aku tidak berniat puasa, maka pagi ini aku berbuka (sarapan)
Abu Bakar berkata, “Kalau aku, sejak semalam sudah berkata pada diriku sendiri untuk puasa, maka aku puasa.”
Rasulullah SAW kemudian bertanya lagi, “Apakah ada di antara kalian hari ini yang menjenguk orang sakit?
Umar berkata, “Ya Rasulallah, kami shalat dan berdoa denganmu, bagaimana kami dapat menjenguk orang yang sakit?
Abu Bakar berkata: “Aku mendengar bahwa adikku, Abdul Rahman bin Auf, merintih maka aku mencari cara untuk bisa mengunjunginya ketika aku datang ke masjid
Rasulullah SAW bertanya lagi, “Sudahkan ada di antara kalian yang bersedekah hari ini?
Umar berkata, “Ya Rasulallah, kami kan shalat dan  berdoa bersamamu dan tidak sempat istirahat
Abu Bakar berkata: “Ketika aku masuk masjid di tengah jalan kujumpai pengemis, di tanganku ada segenggam roti yang kudapat dari Abdurrahman, aku berikan kepadanya
Rasulallah SAW kemudian bersabda,
Aku beri kabar gembira untukmu (Abu Bakar, termasuk ahli) surga.
Umar menggumam, “oh…oh… oh… ahli surga




 




Pesan Kedua

Utsman radhiallahu anhu dan Infaq

Diriwayatkan dari Tsamama bin Hazn al-Qusyairi, radhiallahu anhu, dia berkata: Aku menyaksikan Peristiwa Dar (yaum al-dar), ketika mereka, penduduk Madinah, memuliakan Ustman untuk bercerita amal-amal baiknya di hari itu.
Ustman berkata: “Tahukah kalian bahwa ketika Rasulallah sampai ke kota Madinah, dan tak ada cadangan air (di kota itu) kecuali sumur milik Raumah. Rasulallah SAW bersabda,
Barangsiapa yang membelinya dan menjadikan embernya dan ember kaum muslimin masuk ke sumur itu, niscaya baginya surga
Aku membelinya dari harta tabunganku. Hingga hari ini, aku larang diriku sendiri untuk meminum air dari sumur itu hingga aku harus minum air laut.
Mereka menjawab, “Ya”.
Utsman berkata lagi, “Dan dengan memuji Allah dan mengagungkan Islam, tahukah kalian bahwa (suatu hari) masjid itu sudah sempit dengan jamaah, Rasulullah SAW bersabda,
Barangsiapa yang mau membebaskan tanah si fulan, niscaya diberikan kebaikan baginya dari masjid itu hingga ke surga, aku membelinya dari hartaku. Hingga hari ini aku cegah diriku untuk shalat dua rakaat di masjid itu
Mereka berkata, “Ya”.
Ustman berkata lagi, “Dengan memuji Allah dan mengagungkan Islam, Tahukan kalian bahwa Rasulullah SAW bersabda,
Barangsiapa di antara kalian yang membekali tentara, niscaya wajib baginya surga. Maka aku berikan perbekalan (pada tentara)
Mereka berkata, “Ya Allah, ya benar”.
Ustman berkata lagi, “Dengan memuji Allah, Tahukah kalian aku  dulu berada di gunung Tsabir di pinggir kota Mekah bersama-sama dengan Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar, maka tiba-tiba gunung terguncang, sehingga batunya berjatuhan ke dasar, Rasulullah SAW menghindar dengan kakinya, dan berkata:
Tenanglah wahai (gunung) Tsabir. Sesungguhnya, di dekatmu ada seorang Nabi, seorang yang jujur dan dua orang yang menjadi syahid
Mereka berkata, “Ya”.
Ustman berkata, “Allah Akbar, saksikanlah aku agar kelak masuk surga, wahai tuhan pemilik Ka’bah. Ia berucap tiga kali.




 




Pesan Ketiga

Terjaga dengan ibadah di waktu malam

Salah seorang tabiin (generasi setelah sahabat Nabi) berkata, saat itu mereka tengah merindukan surga dan para bidadarinya,
Aku akan membeli seorang bidadari dari sekian banyak bidadari surga dengan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu malam, aku tidak akan tidur sampai aku selesai khatam tersebut
Dia sudah mengkhatamkan sebanyak dua puluh Sembilan juz, lalu rasa kantuk menyerang hingga ia tertidur. Dalam tidurnya ia mimpi bertemu bidadari, dan sang bidadari berkata berkata,
Apakah engkau akan meminang bidadari sepertiku, dan engkau tertidur. Sementara orang yang mencintaiku, aku haramkan tertidur. Karena aku dicipta untuk setiap orang yang banyak melakukan shalat dan rajin bangun malam.
Mendengar itu, ia terbangun, dan langsung melanjutkan usahanya, dan ia kemudian berkata: Dengan izin dan rahmat Allah, aku berusaha untuk mendapatkan semua ini, untuk mendapatkan salah satu dari bidadari itu.
Abu Sulaiman Aldarini – belas kasihan Tuhan – suatu kali tertidur pada suatu malam malam, dia dikenal sebagai ahli ibadah, seorang yang zuhud, dan tulus kepada Allah, dan ketulusan dengan Tuhan, Yaman itu sendiri, termasuk surga yang penuh kenikmatan.
Pada suatu malam dia berkata, tidur dan diri kadang-kadang berbicara tentang apa yang Anda inginkan dan apa yang ingin Anda dan termasuk cinta – berkata:  Aku melihat – sebagaimana yang sering dilihat oleh orang tengah tidur, suatu kali bidadari datang kepadaku dan berkata:
Inikah perbuatan orang-orang shalih?
Wahai Abu Sulaiman – Apakah engkau tertidur dan aku telah menunggumu sejak lima ratus tahun
Tidak ada Tuhan selain Allah, Sejak itu, ia tak lagi tidur kecuali hanya sedikit saja, hal itu dimaksudkan agar ia sungguh-sungguh bertemu dengannya.




 




Pesan Keempat

Bilal bin Rabah, radhiallahu anhu dan wudhu

Bilal adalah bujang yang bekerja pada Abu Bakar, semoga Allah senang dengan dia. Ia termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam, karena itu ia dihukum oleh kaumnya dan mereka memaksanya untuk bersaksi “Tuhanku Latta dan Uzza”.
Namun, Bilal tetap teguh berkata, “Ahad… ahad…
Datanglah Abu Bakar dan membebaskannya dari perbudakan dengan membelinya seharga tujuh (sebagian mengatakan lima) kantong emas.
Rasululah SAW kemudian menyatakannya sebagai manusia merdeka. Maka, sejak itu Bilal menjadi muadzin Nabi, baik saat berdiam di Madinah atau saat berperjalanan.
Abu Hurairah RA berkata: Suatu hari Rasulullah SAW beserta Bilal:
Ceritakanlah padaku satu pekerjaan yang dilakukan dalam Islam memberikan manfaat, aku mendengar Nabi SAW mengatakan ia sudah mendengar suara sandal Bila di surga. Bilal menjawab, aku tidak mengerjakan apa-apa, kecuali menjaga wudhuku hingga seringkali aku shalat maghrib dengan wudhu shalat dzuhur




 




Pesan Kelima

Di mana tokoh seperti Abu Dahdah sekarang

Abu Dahdah, nama lengkapnya adalah Tsabit bin Dahdah al-Anshari, salah satu pelaku sejarah perang Uhud dan menemui kematiannya pada perang tersebut. Diriwayatkan dari Jabir bin Samrah bahwa Rasulullah SAW bersabda,
  • Betapa banyak decak kekaguman untuk Abu Dahdah di surga”.
Dan diriwayatkan oleh Imam At-Tabrani dalam kitab Al-Awsat  (2/517)  dari hadits Umar dengan lafadz, manakala ayat Allah SWT turun,
  • Barangsiapa yang memberikan pinjaman kepada Allah sebaik-baik pinjaman
Abu Dahdah berkata, “Ya Rasulallah, apakah kita harus meminjamkan Allah dengan harta kita?”.
Rasulallah SAW menjawab, “Ya
Dia berkata: Sesungguhnya aku punya dua dinding (lantai), satu di atas, satu lagi di bawah.. Aku telah meminjamkannya untuk Allah.




 




Pesan Keenam

Tidak Ghibah (Bergunjing)

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, “Bahwasanya ada seseorang bertanya, Ya Rasulallah, si fulan dikenal banyak melakukan shalat dan puasa, hanya saja dia selalu menyakiti tetangga dengan lidahnya
Rasulallah bersabda, “Dia di neraka
Orang tersebut bertanya lagi, “Sementara ada juga si fulan la dikenal sedikit saja shalat dan puasanya sebab dia sibuk memberi makan sapinya, dan dia tidak menggunjingkan tetangganya”.
Rasulallah SAW bersabda, “Dia di surga”.




dakwatuna.com | saputra51.wordpress.com

MAMPIR KE TAMAN SURGA

Mampir ke Taman Surga PDF Print E-mail
Mampir ke Taman SurgaFiqhislam.com - Dalam satu perjalanan, Nabi SAW mengingatkan para sahabat agar berhenti atau mampir apabila melewati taman surga (riyadh al-jannah).
Mereka bertanya, “Apakah taman surga itu?” Jawab Nabi, “ Majalis al-Dzikir” (majelis-majelis zikir). (HR Tirmidzi dan Ahmad dari Anas ibn Malik).

Majelis zikir itu, dalam riwayat lain, disebut majelis ilmu. Riwayat lainnya menyebut masjid. Masjid atau majelis zikir disebut taman surga dalam kisah di atas, dapat dipahami dalam beberapa makna.

Pertama, bagi kaum beriman, masjid tak ubahnya taman, yaitu tempat yang indah dan nyaman. Kita harus rajin ke masjid agar kita memperoleh kesegaran dan kebugaran, tidak saja fisik, tetapi terutama mental dan spiritual.

Kedua, Nabi SAW wanti-wanti agar dalam melakukan perjalanan (al-safar), kaum beriman tidak lupa berhenti dan mampir di masjid, untuk shalat dan zikir kepada Allah. Pada masa kita sekarang, peringatan Nabi ini sungguh penting, karena banyak orang dalam perjalanan hanya berhenti di rest area untuk makan dan minum. Sebagian besar mereka lupa untuk berhenti di taman surga atau masjid.

Ketiga, orang yang rajin ke masjid dan berzikir, sesungguhnya ia sedang membangun rumah dan tamannya sendiri yang indah di surga. Maka, kaum beriman diseru agar banyak berzikir. Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya." (QS. Al-Ahzab: 41).

Zikir itu bermakna mengingat Allah atau menyadari kehadiran-Nya. Orang menyadari kehadiran Allah akan terbebas dari penyakit kehampaan spiritual yang membuatnya terjaga dan terpelihara dari dosa dan maksiat.

Di sinilah makna paling penting dari zikir, sampai-sampai Imam Al-Qusyairi dalam Risalat Al-Qusyairiyah menyebutnya sebagai jalan paling prinsip menuju Tuhan. Bahkan, bagi Qusyairi, tak bisa dibayangkan seseorang bisa sampai (ma`rifah) kepada Allah tanpa zikir secara terus-menerus (wa la yashil ahadun ila Allah illa bi dawam al-dzikr).

Zikir sebagai proses mempertinggi kesadaran tentang kehadiran Allah, bisa dilakukan secara lisan (al-dzikr bi al-Lisan) dan secara rohani atau spiritual (al-dzikr bi al-Qalb). Para sufi, termasuk Qusyairi, memahami zikir secara lisan hanya sebagai alat untuk menggugah agar mampu berzikir lahir dan batin sepanjang waktu.

Kemampuan zikir lahir dan batin tanpa putus ini (istidamat al-dzikr) disebut oleh Nabi SAW sebagai perbuatan paling utama, yaitu tatkala seorang hamba terus berzikir sampai mengembuskan napasnya yang terakhir, sedangkan lidahnya basah (komat-kamit) karena zikir dan mengingat Allah. (HR Thabrani dari Mu`adz ibn Jabal).

Kesadaran spiritual (zikir) itu, menurut Ghazali, berpusat di hati (kalbu). Bagi Ghazali, hati menjadi alat untuk mengenal Allah (al-`alim bi Allah), yang mendekatkan diri (al-mutaqarrib), yang bekerja (al-`amil), yang berjalan (al-sa`i), dan yang menyaksikan rahasia kebesaran Allah melalui terbukanya tirai kegaiban (al-mukasyif bi-ma `inda Allah).
 
Oleh: A Ilyas Ismail
republika.co.id

FATWA QARDHAWI : BERSAHADAT, PASTI MASUK SURGA

Fatwa Qardhawi: Bersyahadat, Pasti Masuk Surga PDF Print E-mail
Fatwa Qardhawi: Bersyahadat, Pasti Masuk SurgaFiqhislam.com - Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan bertauhid, yaitu sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, dia berikrar dan mengucapkan dua kalimat Syahadat, maka dia berhak berada di sisi Allah dan masuk surga-Nya.

Orang tersebut sudah dapat dipastikan oleh Allah akan masuk surga, walaupun masuknya terakhir (tidak bersama-sama orang yang masuk pertama), karena dia diazab terlebih dahulu di neraka disebabkan kemaksiatan dan dosa-dosanya yang dikerjakan, yang belum bertobat dan tidak diampuni.

Tetapi dia juga tidak kekal di neraka, karena di dalam hatinya masih ada sebutir iman. Adapun dalil-dalilnya sebagaimana diterangkan dalam hadis Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, yaitu:

Dari Abu Dzar RA yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa mengucapkan, 'Laa ilaaha illallaah,' kemudian meninggal, maka pasti masuk surga."

Dari Anas RA, bahwa Nabi saw telah bersabda, "Akan keluar dari neraka bagi orang yang mengucapkan, 'Laa ilaaha illallaah,' walaupun hanya sebesar satu butir iman di hatinya."

Dari Abu Dzar pula, dia telah berkata bahwa sesungguhnyaNabi SAW telah bersabda, "Telah datang kepadaku malaikat Jibril dan memberi kabar gembira kepadaku, bahwa barangsiapa yang meninggal di antara umatmu dalam keadaan tanpa mempersekutukan Allah, maka pasti akan masuk surga, walaupun dia berbuat zina dan mencuri." Nabi SAW mengulangi sampai dua kali.

Banyak hadis yang menunjukkan bahwa kalimat Syahadat memberi hak untuk masuk surga dan terlindung dari neraka bagi yang mengucapkannya (mengucap Laa ilaaha illallaah). Maksudnya ialah, meskipun dia banyak berbuat dosa, dia tetap masuk surga, walaupun terakhir.

Sedangkan yang dimaksud terlindung dari neraka ialah tidak selama-lamanya di dalam neraka, tetapi diazab terlebih dahulu karena perbuatan maksiatnya.
Sumber: Fatawa Al-Qardhawi

HIKMAH : MEMBUKA PINTU SURGA

HIKMAH: Membuka Pintu Surga
HIKMAH: Membuka Pintu SurgaFiqhislam.com - Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih sore menjelang Ashar.

Fatimah binti Rasulullah, istrinya menyambut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di rumah makin besar.

Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. "Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeser pun."

Fatimah menyahut sambil tersenyum, "Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta'ala."

"Terima kasih," jawab Ali. Matanya memberat lantaran istrinya begitu tawakal. Padahal, persediaan dapur sudah ludes sama sekali. Toh, Fatimah tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih.

Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan shalat berjamaah. Sepulang dari masjid, di jalan ia dihentikan oleh seorang bapak tua.

"Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?" tanya lelaki tua itu

Ali menjawab heran. "Ya, betul. Ada apa, Tuan?''

Orang tua itu merogoh kantongnya seraya menjawab, "Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar ongkosnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya."

Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.

Tentu saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak di sangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari.

Ali pun bergegas berangkat ke pasar. Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, "Siapakah yang mau mengutangkan hartanya untuk Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan."

Tanpa pikir panjang lebar, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu.

Pada waktu ia pulang dan Fatimah keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya.

Fatimah, masih dalam senyum, berkata, "Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita mengutangkan harta kepada Allah daripada bersifat bakhil yang dimurkai-Nya, dan menutup pintu surga buat kita." [yy/republika]
 
Oleh Hannan Putra (DIKUTIP DARI FIQIHISLAM.COM)

KETIKA TEROMPET KIAMAT DITIUP

Ketika Terompet Kiamat Ditiup
Ketika Terompet Kiamat DitiupFiqhislam.com - Ibnu Abi Ad Dunya yang merupakan murid dari Sa’id bin Salman dalam kitab Al-Ahwal menyebutkan tentang dalil-dalil yang menguatkan terompet (as shuur) kiamat.

Sebuah riwayat menyebutkan, alat itu terbuat dari bahan semacam tanduk binatang. Apa dan bagaimana tak bisa diketahui pasti. Yang jelas, terompet akan digunakan sebagai pertanda hari kiamat benar-benar telah datang.

Tak disebutkan, siapakah nama malaikat yang bertugas meniup trompet itu (diriwayat lainnya nama Israfil mengemuka sebagai malaikat yang ditugasi untuk meniup terompet). Hanya ada keterangan ba hwa di sebelah kanan malaikat tersebut berdiri Jibril dan sebelah kirinya Mikail. Sang peniup sangkakala itu, sebagaimana disebutkan riwayat lainnya, tengah siap sedia menjalankan tugasnya.

Begitu instruksi peniupan diberikan maka ia segera melaksanakannya. Berapa lama jarak antara amar dan pelaksanaannya? Tak perlu tempo lama, bisa jadi kecepatan pelaksanaannya sebelum kelopak mata berkedip. Apa yang bisa diperbuat jika saat itu datang? Rasulullah menyebutkan dalam riwayat lainnya, saat sangkakala ditiup, hanya doa, “Hasbunallah wa ni’mal wakil (Cukuplah Allah penolong dan pelindung bagi kami).

Rasulullah, dalam riwayat lainnya, memberikan gambaran situasi dan kondisi saat trompet yang diciptakan Allah setelah terciptanya langit dan bumi itu ditiup. Terompet tersebut dipercayakan kepada Israfil. Dan, siap sedia berada di bibir nya. Suasana kala itu sangat mengerikan dan dahsyat. Terompet ditiup sebanyak tiga kali.

Tiupan pertama adalah sebuah peringatan dan kejutan. Tiupan kedua adalah untuk menghilangkan kesadaran atau pingsan. Dan yang ketiga, segenap manusia kembali dibangunkan untuk menghadap Sang Pencipta. Saat trompet dibunyikan pertama kali, atas perintah Allah, Israfil meniupkannya.

Seisi dunia kaget dan terkejut. Mereka porak-poranda. Saling berlarian. Tak ada tempat sembunyi. Suara trompet sangat keras. Tanah tempat makhluk berpijak bergerak. Laksana perahu yang diombang- ambingkan ombak. Ibu hamil pun seketika itu juga melahirkan, anak yang tengah menyusui berhenti, di sudut lain, setan mencoba melarikan diri. Para malaikat mengetahuinya, wajah mereka pun ditampar, kemudian para setan tak berkutik dan kembali.

Manusia mencoba bersembunyi. Keluarlah panggilan berseru saat mereka mencoba berpaling, “(Yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada seorang pun yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah.” (QS al-Mukmin [40]: 33). Mereka melihat ke atas, langit telah digulung, planet dan bintang berjatuhan, tak ada tempat berlari. “Mereka yang mati tidak merasa kan kengerian kiamat itu,” sabda Rasulullah SAW.
[yy/republika]
 
 Oleh Nashih Nashrullah (KUTIPAN DARI FIQIHISLAM.COM)